Nama : Haifah Fauziah
NIM : 126738
BAHTRA 2012-C
Syarat Wacana
Untuk dapat
berdiri sebagai wacana, beberapa ahli wacana menyebutkan syarat-syarat yang
relatif beragam, tetapi tidak bertentangan dan justru saling melengkapi. Wacana
akan terbentuk apabila memenuhi persyaratan (1) topik, (2) tuturan pengungkap
topik, (3) kohesi dan koherensi, (4) tujuan (fungsi), (5) keteraturan, dan (6)
konteks dan ko-teks.
Menurut Oka dan Suparno (1994:260-270)
ada tiga persyaratan pokok yang menentukan terbentuknya wacana, yaitu (1)
topik, (2) tuturan pengungkap topik, dan (3) kohesi dan koherensi. Sebuah
wacana, menurut Widowson (1978:22) mempunyai dua hal penting, yaitu proposisi
(sejajar dengan topik) dan tindak tutur (tuturan pengungkap topik).
Sebuah wacana mengungkapkan satu jenis
proposisi, yakni topik atau persoalan yang ditutur oleh peserta tutur. Pada
saat mengekspresikan proposisi, peserta tutur itu melakukan tindak tutur
tertentu (tuturan pengungkap topik), misalnya tindak ilokusi.
Sebuah wacana biasanya ditata secara
serasi dan ada kepaduan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana
(kohensi), sehingga tercipta pengertian yang baik (koherensi). Unsur kohesi
tersebut misalnya dicapai dengan hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun
antarkalimat (Depdikbud, 1988:343-350).
Tindak tutur dalam peristiwa komunikasi
mempunyai tujuan atau fungsi tertentu. Fungsi tersebut menurut van Ek (dalam
Hatch, 1992:131-132) untuk (1) tukar-menukar informasi faktual, misalnya untuk
mengenali sesuatu, bertanya, dan melaporkan, (2) mengungkapkan informasi
intelektual, misalnya: tahu--tidak tahu, ingat--tidak ingat, setuju—tidak
setuju, (3) mengungkapkan sikap atau emosi tertentu, misalnya: berminat—kurang
berminat, heran—tidak heran, takut—tidak takut, simpati—tidak simpati,
cemas—tidak cemas, dan sejenisnya, (4) mengungkapkan sikap moral, misalnya:
minta maaf, merasa menyesal, (5) meyakinkan atau mempengaruhi, misalnya memberi
saran, memberi nasihat, atau memberi peringatan, (6) asosiasi, misalnya:
memperkenalkan dan menyapa.
Sebuah
wacana baik lisan maupun tulis mempunyai keteraturan, baik keteraturan formal
(kohesi) maupun keteraturan pola pikir lewat logika isi (koherensi). Kohesi
diperlukan utuk menata keteraturan pola pikir lewat kaidah bahasa secara
formal. Pada koherensi, keteraturan wacana dimunculkan lewat penataan pola
pikir sistemis dan masuk akal.
Sebuah wacana hadir dalam konteks
tertentu. Konteks wacana terbentuk dari beberapa unsur, yaitu situasi
pembicaraan, pembicara, pendengar, waktu, topik, tempat, adegan, peristiwa,
bentuk amanat, kode, dan saluran wicara. Bentuk amanat yang dimaksud dapat
berupa surat, esai, iklan, pemberiatahuan, atau pengumuman. Kode adalah bahasa
yang dipakai dalam wacana, misalnya bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan
sebagainya. Saluran wicara yang dimkasud adalah media yang digunakan untuk memproduksi
wacana, misalnya: telepon, televisi, dan radio.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar